Friday, April 25, 2014

Buaya Masuk Kampus

“Aaaaah, ada buaya dan ular!”
 “Tenang, ularnya di dalam kandang kok, yang di luarpun, sudah jinak...”
               
Ada apa ini? Oooh, rupanya sedang ada acara BioFair, acara tahunan yang diselenggarakan oleh fakultas biologi UAJY; disana ada berbagai macam reptil, mulai dari kura-kura, iguana, ular sampai buaya  juga ada disana. Tidak perlu takut memegang ularnya. Karena ada pawangnya, dan lagi, pawangnya ramah lho!
Selain ada ular, ada juga perlombaan, kemarin (April 25, 2014) misalnya, ada perlombaan debat, dan pembuatan prakarya dari barang bekas untuk siswa SMA... unik-unik lho.. misalnya, salah satunya, kursi dari kardus bekas yang dilipat lipat, hasil karya mereka, dipajang hari ini di depan peserta lomba kuis “numero uno”.
Numero uno, adalah permainan kuis yang memiliki peserta yang cukup banyak pada awalnya. Para peserta biasanya duduk di lantai, dan disediakan papan tulis kecil, spidol, dan penghapus. Para peserta harus menjawab soal, dan menaruh jawaban diatas kepala. Numero uno di UAJY memiliki peserta siswa SMA, dan hanya diberi 2 pilihan, jadi mudah dan kurang seru, apalagi aku yang ikut-ikut nonton saja bisa jawab... (-_- #sombong) Jangan bilang sombong dulu dong... setelah semua peserta tereliminasi, dan tersisa satu peserta, peserta itu harus melewati babak bonus... aduh! Soalnya susah-susah... dan peserta terakhir ini selalu mengatakan “pas”, atau bila sudah menjawab, jawabannya salah! Aku merasa numero unonya sudah tidak seru lagi. Di depan Auditorium tempat lomba (numero uno), ada anak-anak SMP sedang lomba membuat mading. Namun, karena aku tidak enak sama mereka (peserta dan panitia), maka aku turun ke kantor papi, dan berisistirahat disana.
Setelah duduk sebentar, aku keluar lagi dan bermain ular! (sudah biasa) aku sering geli sendiri, melihat para mahasiswa ketakutan melihat ular, atau buaya, atau iguana... padahal kan, #rapopo... bahkan, aku bermain dengan ular pohon (Boiga sp.), ular pohon adalah ular yang memiliki bisa menengah. Namun, ular pohon disana sudah jinak, dan ia hanya menyemburkan bisa saat panik, ketika kita memegangnya terlalu kuat (mengingat badannya yang kecil), atau saat mencari mangsa... jadi, kalau belum biasa pegang ular, mending belajar pegang yang besar dulu, seperti piton (Phyton reticulatus), atau yang tidak terlalu besar ataupun kecil, seperti ular pelangi (Xenopeltis unicolor) . Selain ular, kita juga bisa pegang iguana dan buaya lho! Namun iguana tahun ini adalah iguana yang besar bernama Barney (tahun lalu, iguana yang dibawa adalah yang besar dan yang kecil bernama Kevin dan Oscar), oh ya, selain Iguana yang dikasih nama, Ular Piton (Phyton reticulatus)nya juga dikasih nama kok, salah satunya Chiko. Dari tiga piton yang dibawa, satu piton sedang menderita sariawan (kasian ya?).
Rupanya, sariawan tidak hanya bisa diderita manusia, tapi bisa juga diderita oleh ular. Selain sariawan, ular juga bisa flu, bersin, dan batuk... hehehe. Kalau mereka bersin atau batuk, bunyinya lucu lho (tapi tetep aja kasian -_-). Penanganannya? Gampang, biarkan saja mereka, dan berikan makanan bergizi seperti biasa. Kalau misalnya ada iguana yang jamuran kulitnya, bisa juga dimandikan pakai sabun-sabun lembut, dan tidak boleh tertelan. Ular juga harus dimandikan, pakai air yang dicampur dengan sabun, jangan sampai tertelan juga. Caranya? Jangan rendam ular di dalam air (ya iyalah, emang cucian, direndem? :p)
Kali ini aku juga jatuh cinta dengan (cieeeee) Ular Mono. Ular Mono (Candoia Carinata Carinata) adalah tipe ular yang ganteng eh salahhh... anteng. Dan saking antengnya, ular tersebut bisa dijadikan gelang... bayangkan!
“mbak, gelangnya bagus, beli dimana?”
“ini bukan gelang mbak... belinya di ka*kus”
“terus apa dong?”
“ini ular mbak... ular mono halmahera”
*mbakke ngcriiit
Hahahaha... keren banget deh... jadi pengen punya... oh ya, buat yang mau punya ular mono, mereka makanannya cicak, dan kalau ular kalian habis selesai makan, jangan kalian pakai buat mainan dulu. Mereka perlu “vakum” sekitar 5-7 hari dari tangan kita. *supaya_gak_setres. Ini berlaku untuk semua ular lho ya! Makanan ular macam-macam, ada yang tikus (phyton), ada serangga (ular pohon) dan masiiiih banyaaaak lagiiiiiii...
Kalau semisal, kita terkena bisa, misal di salah satu jari tangan kita, kita harus cepat-cepat mengikat pergelangan tangan kita, jangan terlalu kencang, agar bisa tidak cepat mengalir ke seluruh tubuh. Jangan terlalu banyak bergerak, jangan ditoreh lukanya (dibuat tambah besaaar), dan jangan banyak bergerak. Kalau punya alat penghisap semacam pipet, atau suntik, bisa dipakai. Yang jelas jangan pakai mulut, dan segera datang ke rumah sakit.
Selain pertolongan pertama tadi, mindset kita begitu digigit ular harus positif. Pawang tadi bercerita. Ada salah satu orang di daerah bantul yang digigit oleh Strychnos lucida, atau lebih dikenal sebagai ular kayu yang tidak punya bisa samasekali, dan seharusnya tidak punya efek apapun terhadap tubuh. Karena mindset orang ini, orangnya pingsan deh... intinya, setinggi apapun bisa ular yang masuk kedalam tubuh kita saat digigit, mindset kitalah yang membuat semua kemungkinan yang kita pikirkan terjadi.
Sekian dulu dariku... kalau kamu mau tahu lebih banyak tentang ular, kalian bisa datang ke BioFair yang diadakan sampai sabtu besok... Ciao!

Wednesday, April 23, 2014

Bikin Tahu Sendiri Yuk!

Kalian pasti tahu deh sama salah satu makanan yang mungkin sering tersaji di meja. Yup, Tahu... terkadang, tahu yang kumakan terasa aneh, terlalu asam, ataupun berwarna cukup “unik”. Dengan ramainya kampanye makanan sehat, tentu aku ingin sekali belajar membuat tahu...
Apa kalian ingin tahu cara membuatnya???
Oke, kalian harus menyiapkan:

 Kedelai, (secukupnya) rendam semalam sebelum membuat tahu
 Air
 Kain untuk menyaring
 Ekstrak garam/cuka
 Panci
 Gilingan
 Baskom
 Wadah berlubang (misal besek)
 Benda yang berbentuk serupa dari wadah sebelumnya, namun lebih kecil (untuk memadatkan tahu)
 Wadah 2 (untuk menampung air)
 Pemberat

Nah, berikut langkah-langkahnya:
一. Setelah kedelainya direndam, pisahkan “baju” kedelai dari kedelainya
二. Selesai melepas “baju”nya, giling menggunakan gilingan, semisal blender, dicampur dengan air. Airnya jangan banyak-banyak ya, secukupnya saja, karena nanti memperlama proses pembekuan tahunya.
三. Setiap selesai memblender kedelainya, tuang kedalam baskom dengan saringan . Hati-hati, berat... jangan sampai ampasnya masuk lagi ya 
四. Lalu setelah memblender semua kedelainya (sudah jadi sari kedelai), rebus dengan panci sampai mendidih. Selama merebus, harus diaduk terus. Bila sudah mendidih, matikan kompor, dan aduk terus sampai suam-suam kuku.
五. Bila sudah suam kuku, bisa ditambah ekstrak garam/cuka (garam yang dilarutkan dengan sedikit air). Jangan terlalu sedikit, nanti gagal, kalau terlalu banyak, rasanya bisa pahit. Kalau terlalu sedikit, masih bisa ditambah lagi larutannya kok.
六. Setelah menambah larutannya, biarkan sejenak, lama-kelamaan, mulai terlihat gumpalan-gumpalan protein yang halus.
七. Siapkan wadah 1 dalam wadah 2, mungkin wadah 1 perlu diberi alas yang cukup tinggi, sehingga wadah 1 tidak terkena air lagi. Lalu, tuang sari kedelainya, nanti, yang menggumpal akan tertahan di wadah 1, sedangkan airnya akan turun ke wadah 2.
八. Setelah semua airnya turun, sudah bisa ditutup menggunakan tutup tadi. Kalau tutupnya sudah berat, tidak perlu ditambah pemberat lagi.
九. Setelah beberapa menit, tahu akan membeku dan siap dimakan!

Selamat Makan! Itadakimasu! Bon Appetit!

Thursday, January 2, 2014

Pendidikan Murah, Pendidikan Rumah...Bukan Pendidikan "Murahan"

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 2-3 November 2013, aku pergi ke Prigen, bersama orangtuaku. Mami menjadi pembicara dalam acara yang dihadiri oleh beberapa sanggar yang mengajar anak-anak pinggiran, anak jalanan atau anak dengan ekonomi menengah ke bawah. Mami membahas tentang Ujian Nasional Paket Kesetaraan dan Homeschool. Aku dan keluargaku naik travel pukul 8 malam dari Yogya dan sampai di Malang sekitar pukul 7 pagi, lalu dilanjut ke Prigen dengan naik mobil bersama Tante Kristin. Kami sampai di lokasi acara sekitar jam 10. Perjalanan yang melelahkan? Tapi tidak, lelahku langsung hilang begitu melihat tempat acaranya. Ternyata tempat acaranya, yaitu Rumah Emaus, Prigen, sangat nyaman. Di sana ada meja ping-pong, pool biliard, dan kolam renang, juga kebun yang luas. Meski tidak sesejuk Yogya.
Di sana aku berteman dengan seorang bocah, bernama Rudi. Dulunya dia adalah anak jalanan. Saat umur 7 tahun dia ditangkap oleh Satpol PP, dan sekarang ia diasuh oleh Romo Wawan. Dia diajari calistung, sekarang ia berusia 11 tahun. Kami bermain ping pong, lalu badminton, billiard, dan sebagainya. Sorenya, teman mami dari Surabaya, Tante Tandelin datang, lengkap dengan “pasukan”, jadi, aku meladeni mereka main kejar-kejaran dan petak umpet, mereka hanya mampir sebentar, jadi belum puas mereka bermain, mereka harus pulang, dan tinggallah aku dan Rudi. Pada malam harinya aku sudah sangaaaaaat lelah, tapi ternyata Rudi masih penuh semangat, dan akhirnya aku menyuruhnya bermain dengan kakak-kakak dari sanggar lain… Hehehe… malamnya, ternyata kakiku lebam… hahaha… semangat anak-anak… bikin kelabakan -_-
Malam harinya, partisipan bercerita tentang masalah yang dihadapi di setiap sanggar. Misal, susah menumbuhkan minat baca, yang lain, menarik minat anak belajar calistung. Dan kegiatan apa saja yang dilakukan sanggar itu, misal, belajar bermusik, menari tarian tradisional, bermain egrang, dan macam-macam. Mereka juga menceritakan dan boleh membantu memberikan solusi untuk masalah yang mereka hadapi. Setelah itu, kami beristirahat sebentar. Dan makan malam pun tiba, setelah makan malam, aku bermain billiard lagi, tapi aku sangat mengantuk… jadi, aku tidur duluan… Good Night!
Keesokkan harinya, aku bangun, eh tak terasa sudah pagi… rencananya aku nggak mau keluar lhooo… (abis takut diajak main lagi sama Rudi)… hehehehe… bangun tidur kok ngambek, jadi digodain sama mami deh, sampai akhirnya aku bangun… hoaaaheeeeemmmm… Groooook, eh tidur lagi -_-
Yah, akhirnya aku bangun (pake ngintip-ngintip dulu) masih lumayan gelap dan sepi… lalu aku keluar kamar… ternyata kakak-kakak sanggar tidur di ruang pertemuan dengan sleeping bag mereka… kan padahal banyak nyamuknya… Aduh, harus hati-hati nih jalannya… di sana ada rambut orang, jalan ke sini ada muka orang… #cape deh… jadinya aku masuk kamar lagi… mau lanjut “bertapa” wkwkwkwk…
Mami mengajakku jalan-jalan, aku menolak, berhubung ini hari minggu, jadi pingin nari Bali nih… tapi gak ada lagu tari pendetnya, jadi coba online deh, sayangnya sinyal jelek dan pulsa modem habis… aduuuuuhhhh…
Setelah Mami Papi pulang jalan-jalan pagi, kami makan pagi, Rudi juga sudah bangun… takut ditagihin main raket lagi nih… (pura-pura gak tahu aja deh)… setelah makan, aku belum mau mandi… akhirnya main ping pong sama papi (yah, sama aja main deh, hehehe) setelah itu, berhenti karena harus ke kamar mandi… dan sekalian mandi… lalu aku main laptop… sekalian mengisi ulang baterai laptop yang nyaris tewas… karena sebentar lagi Mami harus menjadi Narasumber… alias pembicara. Saat Mami menjadi pembicara, aku menjadi asistennya (cieeeeee), yang kerjanya… mengganti slide (-_-) selesai “bertugas”, aku main billiard. Lalu kami melanjutkan acara… bersama Tante Ines lewat Skype. Setelah itu, kami makan siang dan melanjutkan bincang-bincang bersama Romo Wawan. Sebentar lagi, kami harus berkemas dan pulang ke “kandang” masing-masing.
Acara sudah selesai. Kami sudah berkemas. Ada yang bermain billiard. Kami mengikuti misa di kapel di sebelah villa, dan selesainya misa, satu persatu dari kami pun pulang. Rombongan yang pergi ke Malang masih menunggu armada, yang akhirnya sampai pada pukul 6 sore. Aku semobil bersama Tante Kristin, dan suaminya, Mbak Debi, dan kedua orangtuaku. Sesampainya di Malang, kami dapat “bonus” yaitu macet… semula, aku sekeluarga berencana pulang ke Yogya malam itu juga, dengan travel atau kereta api (yang ini ideku) namun karena sampai di agen-agen travel terlalu malam, selain full book, armadanya juga sudah berangkat, jadi, kami menumpang menginap di istana kecil Tante Kristin. Setelah membersihkan diri, kami pergi makan malam… aku makan sayur bening dan kikil bakar…. Yummm!!!
Setelah selesai makan, kami pulang ke rumah Tante Kristin. Tante membantu mencarikan tiket kereta on-line, namun sayang, kereta juga full book… sehingga, Papi dan Mami memutuskan untuk pulang dengan travel besok pagi. Malamnya, kami tidur nyenyak sekali, udara di rumah Tante Kristin mirip dengan udara di rumahku, bahkan Mami (dalam kondisi mengantuk), saat terbangun mengira kami sudah di rumah… hahaha…
Lalu, aku bangun dan minum susu, sarapan, lalu tidur lagi (lho???), hehehe, aku mandi, lalu mengubek-ubek perpustakaan milik Tante Kristin, bermacam-macam buku ada di sana, buku sastra, pengetahuan, dan sebagainya…
Beberapa waktu kemudian, Travel datang, kamipun segera berpamitan, untuk menempuh perjalanan pulang ke kota tercinta…

Yogyakarta, November 2013

Lala

Tuesday, December 31, 2013

KING



KIng
Halo, teman-teman…
Sudah pernah dengar film King? Atau kalian juga sudah lihat? Wah, Lala suka film itu lhoooo, film itu diputar sekitar tahun 2008… sudah lama sekali ya? Dan, sekarang Lala ingin menceritakan ulang cerita King… boleh kan?

Pada suatu waktu, ada seorang anak tangguh bernama Guntur, ia mempunyai sahabat bernama Raden. Guntur berusia kurang lebih 14 tahun. Dia duduk di bangku SMP. Sudah lama ia hidup tanpa ibu. Ia hidup bersama ayahnya, di dalam rumah kecil nan sederhana. Semua serba kecil, dapur kecil, kamar tidur mungil, ruang tamu dijadikan satu dengan ruang keluarga dan ruang makan.
Hari peringatan kemerdekaan tiba, dan seperti biasa, perlombaan yang diadakan hanya 1, yaitu, bulutangkis, karena Guntur menyukai bulutangkis, (dan cukup jago bermain bulutangkis) ia mengikuti perlombaan tersebut. Sayangnya, ia tidak beruntung. Ia kalah. Sebagai hukuman, ayah Guntur, Tejo, memberikan “hadiah” yaitu skotjump 100 kali dan lari 50 putaran. Raden setia menemani Guntur, untuk menyediakan minum, atau mengelap keringat Guntur yang bercucuran. Setelah menyelesaikan hukuman, Guntur pulang. Namun sesampainya di rumah, ayahnya malah mengomel “sudah bagus dinamai King, tapi tetap saja kalah” Guntur hanya menghela napas, ia pergi ke dapur untuk membuat kopi untuk ayahnya.
Keesokkan harinya, Guntur pergi sekolah, di sekolah, ada perlombaan bulutangkis. Di sepanjang jalan, Raden berkata pada Guntur, “ingat ya Tur, di dalam piala itu, ada banyak uang Tur!”. Guntur mengomentari dengan heran “emang bener?” Raden menjawab dengan mantap “iya lah!!!”. Guntur menang dalam perlombaan itu, dan sejurus kemudian, mereka langsung nyabut ke area markas kecil mereka, di rumah pohon reyot tanpa atap, dan pintu yang dikelilingi kebun tak terurus yang sangaaaaaaat luas. Begitu dibuka…. Taraaaaaaa! Kosong… saking marahnya, Guntur membanting pialanya dan memarahi Raden, “endi isine?!”, yang dalam bahasa Indonesia, berarti “mana isinya?!”. Guntur pun langsung kabur ke rumahnya, meninggalkan Raden yang bingung, kecele, dan nyengir kuda karena malu, sendirian.
Sesampainya di jalan tempat Guntur tinggal, ia disapa oleh pengurus masjid, “hey, Tur, ngomong karo bapakmu yo, nek masjid wis nduwe mic anyar” (hey Tur, bilang bapakmu ya, kalau masjid sudah punya mic baru). Tapi Guntur tak mengindahkannya, malah melenggang masuk ke rumahnya. Pengurus masjid hanya tertawa kecil, sambil mengetes mic baru itu. Di rumah, Guntur di sapa oleh ayahnya, “ngopo Tur? Kalah meneh? Yo rapopo…” pernyataan itu langsung dibantah oleh Guntur “ora kok… Guntur menang…” tanpa berkata kalau pialanya dibuang olehnya… “ya… tapi kamu itu ngerepotin orang lain” jawab ayahnya dengan logat jawa yang kental. Guntur langsung protes “kata bapak, alau aku menang bapak gak marah, sekarang Guntur menang tapi bapak tetap marah!” sambil membanting pintu kamarnya. Keesokkan harinya, sebelum berangkat ke sekolah, ia membuat kopi untu ayahnya. Namun sepulangnya dari sekolah, kopi ayahnya belum diminum setetes pun… Guntur berpikir… ayahnya pergi kemana ya??? Namun karena ia masih marah, ia acuhkan saja pertanyaannya tadi.
Sorenya, Mas Retno, tetangganya yang baik hati dan selalu meminjamkan raket untuk Guntur, mengembalikan TV, dan menegurnya “eh, jadi orang jangan suka ngambek lhooo… eh, bapakmu mana?” yang disambut dengan gusar oleh Guntur “ra ono bapak-bapakkan”, dan dibalas dengan jawaban “sama orang tua nggak boleh gitu, durhaka namanya” dan dijawab dengan bentakkan Guntur, “BEN!!” maksudnya, “BIAR AJA!!!” dan dijawab dengan santai oleh Mas Retna “hmm, pantesan bapakmu marah sama kamu, kamu itu keras kepala tahu… kamu nggak tahu ya? Bapakmu memijam raket demi kamu, dan bapakmu meminjamkan TV supaya aku mau meminjamkan raketku” Guntur langsung menyesal dan berkata “aku nggak tahu… bapak nggak pernah cerita”. Pada dini hari. Pak Tejo baru pulang. Namun Guntur tak meminta maaf. Ia sudah tertidur.
Keesokkan sorenya, sepulang sekolah dan sudah membersihkan badan, ia dan Raden pergi ke markas mereka itu. Dari ketinggian, mereka bisa melihat di luar kebun itu, ada mobil yang mogok. Tak ada laki-laki yang ikut menumpang, hanya seorang ibu dan anaknya, yang juga seusia mereka. Mereka langsung keluar markas dan bermaksud membantu beliau. Mereka membantu menurunkan barang-barang dalam bagasi, dan menurunkan ban serep. Lalu, ibu itu berkata, “bisa tolong berikan ini, kalau bertemu dengan anak saya yang bermain di sekitar sana?” ujarnya sambil menunjuk kebun besar. Markas mereka. Setelah mencari, alhirnya mereka bertemu denga gadis itu. Di markas mereka. Mereka berkenalan satu sama lain. Namanya Michelle.
Keesokkan harinya, Guntur dan Raden pergi ke sekolah bersama. Dan, mereka bertemu Michelle di sekolah. Rupanya Michelle tinggal di dekat rumah mereka sekarang. Raden suka dengan Michelle, dan melakukan aksi Pe-De-Ka-Te dengan Michelle, yang langsung dicuekkin oleh Michelle, yang langsung pulang ke rumahnya. Tapi ternyata Raden mengajak Guntur untuk mengikuti Michelle, yang  langsung kepergok olehnya. “hei ngapain kamu disini” ujarnya galak, Raden langsung angkat bicara “ini jalan kampung, boleh dong aku lewat sini”, Michelle menyanggah “tapi daritadi kamu ngikutin aku” Guntur melerai “tunggu… ini ketinggalan” sambil menyerahkan kantong berisi kertas, yang kecil. Mereka langsung berjalan kembali ke rumahnya. Namun Michelle berkata “tunggu… namamu siapa?” dan disahut oleh Guntur, “Guntur!!!” dan sejak saat itu, mereka menjadi teman akrab.
Suatu siang, Guntur latihan lari keliling desa. Disemangati oleh dua sahabatnya. Namun Guntur sudah lelah, merekapun beristirahat bersama. Keesokkan harinya, Guntur dan Raden bermusuhan. Penyebabnya adalah, Guntur dimarahi oleh bapaknya terus menerus. Sedangkan Raden? Neneknya mengomelinya terus, di dalam dapur “dadi wong ojo sering nulungi wong liyo, engko dadi manja” Raden yang sedang mebantu menyalakan api terisak. Mbahnya heran dan bertanya “ngopo nangis?”, dan langsung dijawab dengan pelan “asep mbah…” huh… ternyata hanya asap…
Sorenya, Raden berjalan-jalan ke pabrik pembuatan shuttlecock, yang disebelahnya terdapat lapangan bulutangkis indoor. Di depan lapangan itu, terdapat papan pengumuman, dan ada pengumuman penerimaan siswa bulutangkis baru. Eh, pengumuman itu langsung diambil… aduh… Raden… ia membuat surat palsu. Namanya palsu, Guntur(padahal namanya Raden). Surat persetujuannya palsu. Tanda tangan mbahnya juga palsu. Di hari pertama, “Guntur” diminta untuk lari 10 putaran. Besoknya, mbah Raden datang dengan ekspresi yang marah… “JO, TEJO!!!!” yang keluar malah Guntur, tapi mbahnya tidak mau tahu “endi bapakmu? Aku ora sudi cucuku lungo esuk bali maghrib, musti bapakmu sing ngekon” sambil pergi, ia masih mengomel. Paginya, Guntur langsung mencari Raden. Ia pergi ke tempat pembuatan cock, dan menemukan Raden disana. Ia sedang berlari bersama teman-temannya. Tentu saja, Guntur langsung menariknya keluar dari barisan. “eh, kamu itu dicariin mbahmu, tahu gak? Mbahmu marah-marah sama aku”, sang pelatih yang melihat “Guntur” ini sedang ngerumpi sama temannya, langsung membentak “GUNTUR!!!” tentu saja Guntur yang asli langsung melongo… bagimana orang ini bisa tahu namaku? Cenayang? Tapi Raden langsung kembali ke barisan dan ikut lari lagi. Masih dalam kebingungannya, ia menarik tangan Raden lagi “heh? Denger gak? Kamu dicariin mbahmu…” Raden langsung menyela “aku melakukan ini demi kamu…” ujarnya terengah-engah “GUNTUUUUUR!!!!!” potong pelatihnya… “lho, Guntur itu saya pak” ujar Guntur yang asli… Raden menyengir kuda, dan langsung mengangguk… mulai saat itu, Guntur latihan di tempat itu. Dan beberapa bulan kemudian, terdapat seleksi, dan yang lolos hanya 2, yaitu Guntur, dan salah seorang temannya yang sombong, dan kaya. Guntur mengatakan kepada ayahnya, kalau dia lolos seleksi dan harus pergi ke Jakarta. Ayahnya berniat menjual motornya. Namun Pak Lurah yang baik hati menawarkan mereka untuk naik pickup nya. Akhirnya ia sampai Jakarta, dan mengikuti seleksi lagi. Namun temannya diskors karena bangun kesiangan.
Guntur lulus sampai seleksi tahap akhir, dan sangat berprestasi sebagai juara bulutangkis di usia remaja.

Pesan Moral: Kita harus giat, tekun dan rajin belajar supaya dapat menjadi juara/terbaik

Friday, November 15, 2013

Di Prigen


Beberapa hari yang lalu, aku pergi ke Prigen, bersama orangtuaku. Mami menjadi pembicara dalam acara yang dihadiri leh beberapa sanggar yang mengajar anak-anak pinggiran, anak jalanan atau anak dengan ekonomi menengah kebawah. Mami membahas tentang Ujian Nasional Paket Kesetaraan dan apa itu Homeschool. Aku dan keluargaku naik travel pukul 8 malam, dan sampai di Malang pukul 7an, lalu dilanjut ke Prigen dengan naik mobil bersama Tante Kristin. Kami sampai di lokasi acara sekitar jam 10. Perjalanan yang melelahkan! Tapi tidak, lelahku langsung hilang begitu melihat tempat acaranya. Ternyata tempat acaranya sangat nyaman. Disana ada meja ping-pong, pool biliard, dan kolam renang, juga kebun luas. Meski tidak sesejuk Jogja.
Disana aku berteman dengan seorang bocah, bernama Rudi. Dulunya dia adalah anak jalanan. Saat umur 7 tahun dia ditangkap oleh Satpol PP, dan sekarang ia diasuh oleh Romo Wawan. Dia diajari calistung, sekarang ia berusia 11 tahun. Kami bermain ping pong, lalu badminton, billiard, dan sebagainya. Sorenya, teman mami dari Surabaya, Tante Tandelin datang, lengkap dengan “pasukan”, jadi, aku meladeni mereka main kejar-kejaran dan petak umpet, mereka hanya mampir sebentar, jadi belum puas mereka bermain, mereka harus pulang, dan tinggallah aku dan Rudi. Pada malam harinya aku sudah sangaaaaaat lelah, tapi ternyata Rudi masih penuh semangat, dan akhirnya aku menyruruhnya bermain dengan kakak-kakak dari sanggar lain… Hehehe… malamnya, ternyata kakiku lebam… hahaha… semangat anak-anak… bikin kelabakan -_-
Malam harinya, partisipan bercerita tentang masalah yang dihadapi di setiap sanggar. Misal, susah menumbuhkan minat baca, yang lain, menarik minat anak belajar calistung. Dan kegiatan apa saja yang dilakukan sanggar itu, misal, belajar bermusik, menari tarian tradisional, bermain egrang. Dan macam-macam. Mereka juga menceritakan dan boleh membantu memberikan solusi untuk masalah yang mereka hadapi. Setelah itu, kami beristirahat sebentar. Dan makan malam, setelah makan malam, aku bermain billiard lagi, tapi aku sangat mengantuk… jadi, aku tidur duluan… Good Night!
Keesokkan harinya, aku bangun, eh tak terasa sudah pagi… rencananya aku nggak mau keluar lhooo… (abis takut diajak main lagi sama Rudi)… hehehehe… bangun tidur kok ngambek, jadi digodain sama mami deh, sampai akhirnya aku bangun… hoaaaheeeeemmmm… Groooook, eh tidur lagi -_-
Yah, akhirnya aku bangun (pake ngintip-ngintip dulu) masih lumayan gelap, dan sepi… lalu aku keluar kamar… ternyata kakak-kakak sanggar tidur di tempat pertemuan dengan sleeping bag mereka… kan banyak nyamuk… aduh, harus hati-hati nih jalannya… disana ada rambut orang, jalan kesini ada muka orang… #cape deh… jadinya aku masuk kamar lagi… mau lanjut “bertapa” wkwkwkwk…
Mami mengajakku jalan-jalan, aku menolak, berhubung ini hari minggu, jadi pingin nari Bali nih… tapi gak ada lagu tari pendetnya, jadi coba online deh, sayangnya sinyal jelek dan pulsa modem habis… aduuuuuhhhh…
Setelah Mami Papi pulang, kami makan, Rudi juga sudah bangun… takut ditagihin main raket lagi nih… (pura-pura gak tahu aja deh)… setelah makan, aku belum mau mandi… akhirnya main ping pong sama papi (yah, sama aja main deh, hehehe) setelah itu, berhenti karena harus ke kamar mandi… dan sekalian mandi… lalu aku main laptop… sekalian mengisi ulang baterai laptop yang nyaris tewas… karena sebentar lagi Mami harus menjadi Narasumber… alias pembicara. Saat Mami menjadi pembicara, aku menjadi asistennya (cieeeeee), yang kerjanya… mengganti slide (-_-) selesai “bertugas”, aku main billiard. Lalu kami melanjutkan acara… bersama Tante Ines lewat Skype. Setelahnya, kami makan. Dan melanjutkan bincang-bincang, bersama Romo Wawan. Sebentar lagi, kami harus berkemas, dan pulang ke “kandang” masing-masing.
Acara sudah selesai. Kami sudah berkemas. Ada yang bermain billiard. Dan kami, mengikuti misa di kapel sebelah villa, dan selesainya misa, satu persatu dari kamipun pulang. Rombongan yang pergi ke Malang masih menunggu armada, yang akhirnya sampai pada pukul 6 sore. Aku semobil bersama, Tante Kristin, dan suaminya, Mbak Debi, dan orangtuaku. Dan sesampainya di Malang, kami dapat “bonus” yaitu macet… semula, aku sekeluarga berencana pulang ke Jogja malam itu juga, dengan travel, atau kereta (yang ini ideku) namun karena sampai di agen-agen travel terlalu malam, selain full book, armadanya juga sudah berangkat, jadi, kami menumpang menginap di istana kecil Tante Kristin. Setelah membersihkan diri, kami pergi untuk makan… aku makan, sayur bening, dan kikil bakar…. Yummm!!!
Setelah selesai makan, kami pulang ke rumah Tante Kristin. Tante membantu mencarikan tiket kereta, namun sayang, kereta juga full book… sehingga, Papi dan Mami memutuskan untuk pulang dengan travel besok pagi. Malamnya, kami tidur nyenyak sekali, udara di rumah Tante Kristin mirip dengan udara di rumahku, bahkan Mami (dalam kondisi mengantuk), saat terbangun mengira kami sudah di rumah… hahaha…
Lalu, aku bangun dan minum susu, sarapan, lalu tidur lagi (lho???), hehehe, aku mandi, lalu mengubek-ubek perpustakaan milik Tante Kristin, bermacam-macam buku ada disana, buku sastra, pengetahuan, dan sebagainya…
Beberapa waktu kemudian, Travel datang, kamipun segera pamit, untuk menempuh perjalanan pulang ke kota tercinta…

Yogyakarta…

Thursday, September 26, 2013

Cerpen ku



                                  Burung Gagak Baik Yang Malang
(Karya Lala)

Baru  satu minggu ini, Gaga si gagak tinggal di rumah barunya, ia pindah ke luar kota, Gaga yang dulu tinggal di Hutan Salemba, pindah ke Hutan Hujan.

Sebenarnya, Gaga tidak betah tinggal di rumahnya, pasalnya, ia belum punya kawan, suatu hari ia terbang, untuk mencari teman. Tiba – tiba ada yang berteriak, ”lari! Selamatkan diri! Ada burung peliharaan nenek sihir! Nanti disihir lho!” mendengar itu Gaga langsung menjawab “Tunggu, aku ingin berteman dengan kalian, aku bukan burung peliharaan nenek sihir kok!” tetapi, tak ada yang mendengarnya, malah, mereka semua terbang menjauh. Hanya Robin si burung pipit yang berani menjawab “Bohong! Kamu pasti burung peliharaan nenek sihir! Kamu juga tak mungkin kesepian, kamu punya banyak teman di tempat tinggal nenek sihir jahat itu! Pergi! jauhi kami!” akhirnya dengan sedih Gaga pulang ke rumah.
Dirumah, ibu Gaga melihat Gaga sedang murung, ia mengunci diri dikamar, dengan lembut ibu berkata “Nak, ada apa? apa ibu boleh masuk?” lalu Gaga menjawab“Masuklah bu, pintunya tak dikunci”, ibupun membuka pintu dan duduk disamping Gaga “Ada apa sih? Kok kamu mengurung diri disini? Kan tidak  enak mengunci diri didalam kamar”,ibu berkata”Iya bu, Gaga tahu, mengunci diri didalam kamar itu tidak enak, pengap”,ujar Gaga “Tapi Gaga sedang sedih, tidak ada teman yang mau berteman dengan Gaga, mereka bilang Gaga itu burung peliharaan nenek sihir, nanti bisa disihir sama Gaga,Gaga sudah jelaskan ke mereka bahwa Gaga bukan peliharaan nenek sihir, tapi tidak ada yang mau mendengar, mereka semua malah lari, juga ada burung pipit yang malah mengusir Gaga, Gaga tidak betah bu dirumah ini” sambung Gaga “Oooh, jadi itu masalahnya, mengunci diri didalam kamar tidak akan menyelasaikan masalah, coba kamu tadi memberitahu ibu, ibu bisa memberimu saran dari tadi sehingga sedihmu takkan berlarut seperti ini kan?”ujar ibu memberitahu. Gaga pun menjadi malu “Hehehe iya bu lain kali aku tak akan mengunci diri lagi” kata Gaga tersipu “Ya sudah sekarang ayo keluar dari kamar, makan dulu, ibu sudah menyiapkan makanan kita yaitu biji-bijian kesukaanmu, setelah makan nanti ibu akan memberitahumu sesuatu” ajak ibu “Oke deh bu!”

               Setelah makan ibu memberitahu Gaga sesuatu “Gaga kamu tahu tidak sebenarnya kamu itu ditakuti teman temanmu, karena rupamu yang mengerikan, seramah apapun, kamu tetap terlihat mengerikan” “Karenanya, supaya mereka mau berteman denganmu ayah dan ibu setuju memasukkan kamu ke sekolah Fabu, sekolah favorit para burung di kampung tempat kita tinggal, semua warga burung di kampung ini bersekolah disana lho” sambung ayah “Mmm baiklah ayah, ibu kita coba saja semoga sikap mereka berubah setelah Gaga bersekolah di sana”
Keesokkan harinya, Gaga sudah mulai bersekolah, karena beberapa hari yang lalu ayah dan ibu Gaga telah mendaftarkannya ke sekolah Fabu, sehingga buku-buku pelajarannya sudah tersedia hari ini. Saat masuk ke kelas Gaga melihat ada burung pipit yang mengusirnya kemarin, serempak satu kelas langsung heboh, mereka langsung berbisik – bisik satu sama lain supaya menjauhi Gaga, Gaga melihatnya sedih dan kecewa, tiba- tiba bel tanda masuk berbunyi ,Gaga mengikuti semua pelajaran dengan cermat tetapi dalam hatinya ia berpikir “aku berada di sekolah tanpa kawan dan di rumah tanpa kawan sepertinya aku harus mengatakannya pada ibuku bahwa masalah ini belum teratasi” gumam Gaga “Gaga mengapa kamu sendirian? Apa kau belum mengenal mereka?”Tanya bu Yasinta si Jalak Bali “Ibu guru Yasinta, aku memang belum mengenal mereka, saya masih malu berkenalan dengan mereka bu” ujar Gaga yang menutupi keadaan sebenarnya “Apa ibu guru bantu kamu untuk berkenalan dengan ketua kelas? Nanti pasti ketua kelas ini mau membantu  mengenalkanmu dengan teman-teman  satu kelas”,Bu Yasinta bermaksud membantu “ Eee tidak usah bu, mungkin besok saya akan merasa lebih baik dan mulai berkenalan satu sama yang lain bu” “Oke itu juga baik”

Sesampainya di rumah, Gaga berkata “ Bu, ibu aku belum mendapatkan teman. Ketika aku datang mereka langsung berbisik – bisik supaya menjauhi aku, tapi, aku hanya berkonsentrasi pada pelajaran” “Oooh begitu, bagaimana ya? Coba, sambil ibu mencari solusi kamu mencari solusi sendiri” kata ibu “baik ibu aku akan berusaha untuk menjadi anak mandiri!”Gaga berjanji “Siiiip itu baru anak ibu, bersemangat!” “oke deh bu, aku makan dulu ya, setelah itu aku akan pergi untuk mencari teman, siapa tahu…. ada yang mau berteman denganku!”

Gaga belum tahu kalau, hari itu adalah hari dimana para burung bekerja mencari bibit bunga yang tumbuh di sekitar hutan untuk dikirim ke petani bunga, para petani bunga akan menanam dan menjual bibit bunga itu bila sudah tumbuh ,mereka hanya setahun sekali melakukannya karena mereka mengumpulkan benih benih itu sangaaaaat banyaaaaak.

Disaat benih benih itu sudah terkumpul, dan sudah dikumpulkan dalam dua puluh kantung, ada beberapa orang masuk ke dalam hutan seorang dari rombongan itu berkata “tempat hutan ini cukup bagus, mari kita buka lahan ini” “ayo, kita bakar saja, supaya lebih praktis” kata yang lainnya, mereka sudah siap untuk membakar, beberapa burung yang menjaga benih itu hendak mengambil benihnya, akan tetapi terlambat, benih itu terkepung kobaran api, jadi, tak ada yang dapat mengambil karena berada jauh dari api saja sudah panas, apalagi dekat dengan api itu, pasti mereka akan mati kepanasan “Habis sudah benihnya, tak ada yang berani mengambil, padahal petani bunga itu telah menunggu benih kita!” ujar Riri si burung kenari. Tiba-tiba Bebe si burung perkutut melihat burung hitam keluar masuk kobaran api dan menyelamatkan kantung kantung benih, cepat sekali “lihat, itu kan….si burung Gagak, kok ia berani ya, keluar masuk kobaran api, jangan-jangan benar dia punya ilmu sihir, tapi kita tak boleh takut , ia kan telah menyelamatkan kantung-kantung benih kita, berarti ia gagak yang baik!”

Setelah selesai menyelamatkan semua kantung benih, Gaga si gagak merasa tubuhnya sakit, karena, hampir seluruh badannya melepuh. Gaga si gagak segera mencari sebuah danau, setelah ia menemukan sebuah danau, ia segera masuk ke dalam danau itu. Para burung yang melihatnya, segera menyusul ke danau, dan hendak berterimakasih atas pertolongannya, tapi Gaga mengira mereka hendak memarahinya karena telah mencampuri urusan mereka. Gaga dengan spontan berkata “maafkan saya, saya telah lancang mengambil kantung – kantung itu, eehm… kantung itu ada disitu, ditepi danau, mereka semuanya aman….” Riri yang masih terpana melihat aksi Gaga tadi, bertanya”Hei, gagak! Kamu pakai mantra apa sih? Dan….oh iya! Siapa namamu?” Gaga menjawab “Aku tidak memakai mantra apapun kok! Perkenalkan! Namaku Gaga! Mmm, jadi kalian tidak marah padaku?” “Oooh, mana bisa kami memarahi  burung yang menyelamatkan benih – benih  untuk para petani bunga?” kata Bebe “betul itu! Mana bisa kami memarahi pahlawan benih? Namaku Robin, maafkan aku ya! Waktu itu telah lancang padamu!” sambung Robin “Mmm…mana mungkin…aku tidak memaafkanmu, Hahahahaha “ kata Gaga sambil menahan tawa, meskipun akhirnya tawanya lepas juga, Robin yang pucat mendengar Gaga tidak mau memaafkannya, ikut tertawa juga setelah ia tahu, itu hanya bercanda saja.

Robin melihat Gaga seperti kelelahan dan kesakitan hendak membantu Gaga “kau kelihatan lelah dan sakit mari, kami antar ke rumahmu ya!” “tidak usah aku….bisa..pulang…sendi……”tiba – tiba saja Gaga pingsan di pinggir danau, untung saja ia pingsan di pinggir danau, jadi ia takkan tenggelam, karena airnya dangkal. Robin, Bebe, dan Riri, segera membawa Gaga ke rumahnya, diikuti beberapa, burung, karena sebagian besar burung, sedang berusaha memadamkan api. “Gaga! Bangun nak! Ayolah! Bukalah matamu!” ibu Gaga berteriak dan menangis karena panik. Pak dokter Owl berusaha menenangkan ibu Gaga “tenang bu, semoga anak ibu dapat sembuh, dan… lebih baik, anak ibu dirawat di rumah sakit saja! Supaya bila tiba – tiba Gaga dalam kondisi darurat, tetap ada yang dapat merawatnya”  “ baik dok” kata ayah Gaga.
Api masih menyala – nyala di hutan hujan, para burung sudah tak mampu memadamkannya, karena api begitu besar. Semua burung sudah putus asa, dan berdoa kepada Allah semoga dapat mengirimkan hujan supaya api dapat padam. Rupanya, doa itu didengar oleh Allah, Ia mengirimkan hujan sehari, itu sudah lebih dari cukup, karena selain api dapat dipadamkan, danau – danau dapat terisi kembali, dan tumbuhan sudah mulai subur kembali. Bagaimana dengan para pembuka lahan itu? Mereka tersesat dan akhirnya mati kelaparan. Itulah hukuman Allah bagi siapa saja yang berupaya merusak alam milikNya.

Setelah kebakaran hutan berhasil dilumpuhkan, kebalikan dengan Gaga yang kondisinya semakin memburuk, membuat para burung menjadi prihatin saja, setiap hari ada saja yang menjenguknya, terlebih Robin yang kini menjadi sahabat Gaga. Saat itu kondisi Gaga sudah semakin parah, sehingga pak dokter Owl melihat bagaimana kondisi Gaga, “ya, luka bakarnya sangat parah, 80% tubuhnya terbakar, semoga ia dapat sembuh” kata pak dokter Owl “apakah tidak ada harapan dok? Aku berharap semoga ia dapat bermain bersama, dan belajar bersama” Tanya Robin sedih “berdoa saja Robin, semoga Gaga dapat sembuh” kata Pak dokter Owl. Robin semakin prihatin dengan kondisi Gaga, ia menjaga Gaga sepanjang hari, ia tak mau disuruh pulang, orangtua Robin sebenarnya cemas. Untunglah orangtua Gaga meyakinkan orangtua Robin, bahwa, mereka akan berusaha merawat Robin, memberinya makan dan minum, menyuruhnya mandi dan tidur. Akhirnya orangtua Robin mengijinkan Robin menjaga Gaga. Dan selama itu pula Robin berdoa kepadaNya, supaya jangan merenggut nyawa Gaga yang baik itu.


Namun Allah berkehendak lain, kondisi Gaga semakin buruk, dan akhirnya Gaga pun mati. Semua burung sedih, apalagi Robin, ia sangat - sangat terpukul “sudahlah nak relakan ia pergi, kami merasa senang karena kau sudah berusaha menjaga dan mendoakan Gaga supaya Gaga cepat sembuh namanya nasib” hibur ayah Gaga “Iya om”.

Makam Gaga amat megah, meskipun kedua orangtua Gaga menolak, tapi meskipun ditolak, mereka tetap membuatkan makam Gaga dengan megah, karena bagi para burung, Gaga adalah pahlawan. Makam Gaga berbentuk tugu, dan sangat besar, semua burung dapat menjadikannya tempat peziarahan, di makam Gaga tertulis: “Gaga sang pahlawan benih, melawan api, menyelamatkan benih, melupakan keselamatan diri”


                                                          (TAMAT)

Pesan moral:
Kita harus tetap saling membantu, meskipun kita dibenci.