Friday, July 20, 2012

Hellen Keller


Resensi Buku 3:
|Judul: Hellen Keller Yang Tak Pernah Mau Menyerah Pada Nasib
|Sumber:
|Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
|Kode: Seri Tokoh Dunia no. 24
|Penulis: Lin Cau Cing
                              

Pada 27 Juni 1880, Hellen Keller lahir di Tuscumbia, Amerika Selatan, saat lahir, Helen tidak buta dan tuli, ia lahir normal layaknya anak lainnya, di hari ulang tahunnya yang pertama, Helen sudah bisa jalan, dan sudah dapat berkata – kata dengan jelas. Pendengaran Helen juga sangat tajam, ia dapat mendengar suara bel dari kejauhan.

Sayang, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, keesokan hari setelah Helen berulang tahun, tiba – tiba Helen menderita demam tinggi, setelah diperiksa oleh dokter, dokter khawatir bila demamnya tidak turun, nyawa Helen tidak dapat tertolong, semampunya dokter memberikan obat yang paling manjur. Orangtuanya bergantian menjaga Helen selama 2 minggu, akhirnya Helen sadar. Tapi saat disapa muncul keanehan, Helen tidak menjawab ketika Helen ditanya oleh ibunya apakah Helen ingin makan, sehingga dokter dipanggil. Ternyata, akibat demam tinggi tempo hari, Helen menjadi buta dan tuli.
Helen semakin besar. Tetapi karena mata dan telinganya tidak berfungsi, maka Helen mengenal sekelilingnya hanya dengan bantuan jari, tangan, dan penciumannya.
Helen mempunyai bahasa isyarat yang belum tentu dimengerti oleh orang lain, tapi dimengerti oleh anak pembantu dan ibunya, Helen, diajarkan bahasa isyarat oleh anak pembantunya.
Tahun 1885, saat Helen berusia 5 tahun, ibunya melahirkan anak perempuan yang diberi nama Mildred Keller. Tetapi sayang, sejak Mildred lahir tabiat Helen semakin buruk.
Suatu hari, Helen ingin melihat adiknya, ibunya mengijinkannya dengan mendekatkan Mildred ke Helen, entah apa yang dipikirkan Helen, tiba – tiba Helen marah, dan ingin merebut Mildred. Keesokkan sorenya, saat Helen bermain boneka, ia menuju ke kamar tempat Mildred tidur, dan Mildred sedang tidur disana, ia ingin menaruh bonekanya di tempat tidur itu, akan tetapi, ia jengkel karena ada benda mungil yang lunak (yang sebenarnya Mildred, adiknya yang sedang tidur) sehingga ia hendak membuangnya ke lantai, ibunya yang mempunyai firasat seorang ibu bahwa Mildred dalam bahaya, segera mengambil Mildred yang hampir mengenai lantai.
Akhirnya orangtua Helen memikirkan cara agar Helen mendapatkan pendidikan supaya menjadi anak yang sopan, dan terdidik. Awalnya, ayahnya mengusulkan supaya Helen dititipkan di panti tunanetra dan tuna rungu, tetapi ibunya kasihan, karena Helen pasti akan tambah menderita ditempat itu.
Ibu Helen teringat seorang dokter di Washington, yang bernama dokter Bell. Ia sangat  mengerti pendidikan anak tuna netra dan tuna rungu, sehingga diajaklah Helen untuk menemui dokter Bell. Sesampainya di Washington, mereka langsung menemui dokter Bell.
Ketika tiba di rumah dokter Bell, Helen diberi sebuah arloji rusak oleh dokter Bell, Helen berterimakasih kepada dokter Bell dengan memeluk dan menciumnya. Kemudian orangtua Helen menceritakan masalah yang mereka hadapi. Dokter Bell berkata, bahwa dokter Bell tidak sanggup menghadapi Helen, akan tetapi ia dapat membantu menulis sepucuk surat kepada pimpinan sekolah khusus penderita tuna rungu dan tuna netra di Boston, Michael Anagnos, supaya dicarikan jalan keluar.
Akhirnya Michael Anagnos mengirimkan Anne Sullivan untuk mendidik Helen. Ketika baru datang, Anne disambut oleh Helen secara tidak ramah, namun  Anne masih dapat memakluminya. Tetapi saat melihat cara Helen makan yang sangat tidak sopan, yaitu makan tanpa sendok dan garpu dan makan sambil jalan – jalan, Anne menyuruh Helen makan sambil duduk dan menggunakan alat makan, dan menyuruh orangtua Helen untuk keluar dari ruang makan. Setelah beberapa lama Anne bergelut dengan Helen, akhirnya Helen dapat makan menggunakan garpu kecil.
Anne berpikir betapa inginnya ia mendidik Helen tanpa dihalangi oleh ayah Helen yang sangat menyayangi Helen dan tidak tega bila harus melihat Helen dipaksa dan dimarahi.
Anne berdiskusi dengan orangtua Helen, dan akhirnya mereka dapat tinggal di rumah kecil yang dimiliki oleh orangtua Helen.
                Pada hari pertama, Helen yang tidak terbiasa takut dan meronta – ronta ingin pulang, akan tetapi, lama – lama ia dapat membiasakan diri hidup berdua dengan Anne. Kadangkala, ibu Helen melihat perkembangan Helen lewat jendela, ibu Helen terharu melihat Helen yang dulu nakal, jahil, kasar menjadi penurut, lemah lembut dan baik.
                Waktu demi waktu berlalu. Selain mengajarkan nama  - nama benda, dan hal – hal lain yang ada disekitarnya, Anne juga mengajarkan prakarya. Pelajaran terakhir yang diterima Helen di rumahnya adalah membaca huruf Braille, dan juga belajar membuat kalimat.
Tahun 1888, pada saat Helen berumur delapan tahun, Helen dan Anne diminta untuk datang ke sekolah di Boston, Helen yang sudah terbiasa dengan hidup jauh dari orangtuanya, diijinkan ibunya pergi ke sekolahnya di Boston, agar Helen dapat melihat dunia luar dan teman senasibnya. Lagipula Helen sudah tidak rewel dibawa jauh pergi ke Boston. Di Boston, selain bermain saat liburan, Helen juga mengetahui bahwa air laut rasanya asin, dan Helen yang belum pernah merasakan salju, akhirnya ia tahu kalau ada salju di dunia ini, bermain permainan yang sebelumnya belum pernah ia mainkan, dan lain – lain. Helen juga belajar, sejarah, ilmu pasti, ilmu bumi, bahasa – bahasa asing, dan lain – lain. Disaat umurnya genap 10 tahun, Helen mendengar kabar bahwa ada anak Norwegia yang buta dan tuli seperti Helen dapat berbicara, Helen membujuk Anne supaya membawa Helen ke guru ahli mengajar berbicara untuk anak buta dan tuli. Helen sangat rajin belajar, sampai – sampai suara bu Anne parau. Akhirnya jerih payahnya belajar bebicara berhasil, kalimat pertama yang ia katakana adalah “saya sudah bukan anak bisu”. Baik gurunya belajar berbicara, maupun bu Anne, bangga dengan hasil yang dicapai oleh Helen.
Libur sekolah telah tiba, Helen tidak sabar mengajak bu Anne untuk segera pulang dengan kereta api. Di dalam kereta, berulang kali Helen belajar berbicara kata “Papa” dan “Mama”. Dan sesampainya di stasiun, ia memanggil “Papa, Mama saya datang”, baik orangtuanya maupun adiknya terkejut dan terharu karena akhirnya Helen dapat memanggil mereka “Papa”, “Mama”, juga “Dik”.
Kesehariannya di rumah adalah menemani keluarganya pergi mendengarkan khotbah pendeta. Anne menerjemahkan kata – kata pendeta lewat bahasa isyarat tangan. Helen diam merenungi khotbah pendeta.
Seusai kebaktian, Helen bertanya kepada Anne, apa betul bahwa banyak anak yatim piatu yang buta dan tuli diusir dari rumah sakit karena tidak dapat membayar biaya pengobatan. Anne mengiyakan. Hal ini membuat Helen bertekad untuk menyumbangkan seluruh uang jajannya untuk anak – anak malang itu Anne kaget dan berkata “ini tidak mudah Helen, apalagi kau masih berumur 10 tahun” akan tetapi Helen tak gentar. Helen mulai menulis surat kepada para dermawan dan instans.
Tak lama kemudian Helen mulai mendapat tanggapan dari para dermawan, sehingga mengalirlah banyak sumbangan. Dengan mudah, Helen dapat mencapai impiannya menyekolahkan anak yatim yang malang ke sekolah Perkins, tempatnya bersekolah.
Tahun 1894, Helen masuk sekolah Wright Humason di New York. Pengajaran mengenai ucapan bibir sangatlah cermat, Helen mendapat banyak keuntungan dari sini. Berturut – turut, Helen juga belajar berbagai bahasa, seperti; Prancis, Jerman, Latin.

Helen ingin masuk ke universitas Harvard, maka, Helen belajar lebih giat. Menjelang akhir semester, Helen diberitahu oleh Anne bahwa ayahnya meninggal dunia, karena pukulan yang berat ini, Helen menjadi lebih giat belajar. Akhirnya berkat kerja kerasnya ini, Helen dapat masuk ke Harvard dengan baik.
Juni 1904, Helen berhasil lulus dengan nilai baik, ia menjadi penderita tuna netra sekaligus tuna rungu pertama yang berkuliah di Harvard. Setelah lulus dari Harvard, Anne dan Helen berceramah tentang anak – anak yang malang, dan giat mengumpulkan uang untuk mereka.
Tahun 1924, ibu Helen meninggal dunia, ia sangat bersedih, tetapi ia tetap berceramah di depan publik. Tidak ada yang tahu kesedihan Helen selain Anne. Seusai ceramah Helen menangis lagi. Selain berceramah, Helen juga mengunjungi rumah sakit buta dan tuli, untuk memberi semangat pada anak – anak disana, para anak – anak itu memanggilnya mama Helen.
Oktober 1936, malam, karena terlalu lelah, Anne Sullivan meninggal dunia, selanjutnya, yang mengurus Helen adalah  Nona Thomson. Ia sangat bersedih, ia tidak bersemangat untuk melakukan apapun, ia tiba – tiba mendengar suara Anne supaya Helen terus meneruskan perjuangannya dulu. Ia kembali melanjutkan perjuangannya yang sempat putus sesaat, sampai akhir hayatnya.
1 Juni 1968, Helen Keller meninggal dunia dengan tenang dalam usia 87 tahun.

################################

1 comment:

  1. Resensi dari Lala:
    Helen Keller, lahir layaknya anak biasa, akan tetapi pada umur satu tahun satu hari, ia menderita panas tinggi yang membuatnya menderita buta dan tuli. meskipun kondisi Helen yang buta dan tuli, Helen tak pernah patah semangat, ia tak pernah mengutukki dirinya sendiri hanya karena ia buta dan tuli. ia sangat rajin belajar, hingga ia menjadi orang pertama yang menderita buta dan tuli yang berhasil lulus dari universitas Harvard.

    Dari gurunya Anne Sullivan, ia mendengar bahwa di dunia ini ada banyak anak yatim piatu yang buta dan tuli yang diusir dari rumah sakit karena tidak bisa membayar pengobatannya, sejak mendengar kabar itu, Helen melakukan bakti sosial untuk anak - anak tersebut, dari umurnya sepuluh tahun sampai akhir hanyatnya. seumur hidupnya, ia selalu berkarya untuk orang cacat, entah itu cacat fisik maupun mental

    kita yang hidup memiliki dua mata untuk melihat secara normal, dua telinga untuk mendengar, punya sepasang kaki untuk berlari, berjalan dan tangan untuk mengambil, memegang dan lain -lain kadang malah mengutukki diri sendiri, padahal kita hidup dengan normal.

    Dari Helen kita harus belajar mensyukuri hidup ini, meski kadang kita harus menerima kenyataan pahit, seperti, melakukan kesalahan, baik kecil maupun besar. Dan kita juga harus membantu orang - orang yang cacat fisik maupun mental, dimulai dengan hal kecil saja,seperti, tidak mengucilkan mereka. oke?

    ReplyDelete